Sarang — Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAIKA Al-Kamal Sarang melalui Kabinet Winatra menggelar kegiatan Talkshow Leadership & Keorganisasian di Auditorium STAIKA Al-Kamal Sarang, Sabtu (24/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi wadah penguatan wawasan kepemimpinan dan organisasi bagi mahasiswa di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.
Acara ini menghadirkan Ketua DPD KNPI Rembang, M. Nuril Anwar, serta advokat dan pengusaha, M. Shofiyul Albab, S.H., sebagai narasumber utama. Hadir pula Rektor STAIKA Al-Kamal Sarang H. Moch. Noor Hasan, M.H., para dosen, pengurus organisasi mahasiswa, dan mahasiswa dari berbagai program studi.
Ketua Umum DEMA Kabinet Winatra, Lutfy, dalam sambutannya menegaskan bahwa organisasi mahasiswa memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kemampuan kepemimpinan mahasiswa di luar ruang kelas.
Menurutnya, proses belajar di perguruan tinggi tidak cukup hanya melalui teori akademik, tetapi juga harus dibarengi pengalaman sosial dan praktik kepemimpinan melalui organisasi.
“Berorganisasilah, karena dari sana kita belajar hidup, memimpin, dan memberi arti,” ujarnya di hadapan peserta.
Sementara itu, Pak Zainal dalam sambutannya menilai bahwa kepemimpinan dan keorganisasian merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia yang sejalan dengan nilai-nilai agama. Ia menyebut manusia memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin sekaligus makhluk sosial yang harus mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi inti yang dipandu moderator Ecca. Diskusi dibuka dengan pengantar mengenai pentingnya manusia sebagai zoon politicon atau makhluk sosial yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan organisasi dan relasi sosial.
Dalam pemaparannya, M. Nuril Anwar menjelaskan bahwa organisasi merupakan fondasi utama dalam membangun solidaritas dan kekuatan sosial. Ia menekankan bahwa tidak ada masyarakat maupun negara yang dapat berdiri tanpa adanya kebersamaan dan sistem organisasi yang kuat.
Ia juga menyoroti konsep asabiyah sebagai semangat solidaritas kolektif yang menjadi dasar terbentuknya kekuatan sosial dalam suatu kelompok.
Menurut Nuril, konflik dalam organisasi merupakan hal yang wajar dan tidak selalu berdampak negatif. Konflik justru dapat menjadi proses pendewasaan selama diselesaikan melalui komunikasi yang baik dan kepemimpinan yang sehat.
“Konflik bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi harus dikelola agar menjadi solusi dan pembelajaran bersama,” jelasnya.
Di sisi lain, M. Shofiyul Albab, S.H. menekankan bahwa kepemimpinan bukan sekadar posisi atau jabatan formal, melainkan kemampuan mengendalikan diri dan membangun keadilan dalam organisasi.
Ia menilai banyak persoalan organisasi muncul akibat ego pribadi yang tidak mampu dikendalikan oleh seorang pemimpin.
“Leadership bukan tentang kekuasaan, tetapi tentang tanggung jawab, komunikasi, dan kemampuan menjaga kepercayaan anggota,” ungkapnya.
Sesi diskusi berlangsung interaktif ketika peserta diberi kesempatan menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada narasumber.
Falah, mahasiswa Program Studi MPI Tarbiyah, mempertanyakan fenomena ketua organisasi yang kurang memperhatikan anggotanya sehingga organisasi berjalan tanpa arahan yang jelas.
Menanggapi hal itu, Nuril menegaskan bahwa seorang pemimpin harus hadir tidak hanya secara struktural, tetapi juga secara emosional dan sosial bagi anggotanya. Pemimpin, kata dia, harus mampu menjadi pendengar sekaligus penggerak organisasi.
Sementara itu, pertanyaan lain datang dari Inez, mahasiswa Program Studi HKI Syariah, terkait persoalan keterbatasan anggaran dalam organisasi mahasiswa.
Menjawab hal tersebut, kedua narasumber sepakat bahwa keterbatasan dana tidak boleh menjadi penghambat gerakan organisasi. Kreativitas, transparansi, serta integritas kader dinilai menjadi kunci utama dalam mengelola organisasi secara sehat dan profesional.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara peserta dan narasumber sebagai simbol kebersamaan dan komitmen membangun budaya kepemimpinan yang progresif di lingkungan mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, DEMA STAIKA Al-Kamal Sarang berharap mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu menjadi pemimpin yang berintegritas, komunikatif, dan siap menghadapi tantangan masyarakat di masa depan.
